Online gambling_Indonesia online casino site_Gambling platform

  • 时间:
  • 浏览:0

“BelLive Baccarat RegistratioLive Baccarat Registrationni snLive Baccarat Registrationack enak, nih”

“Ngambil Ultra coklat, aaah”

“Mas Oji mau kemana? Pagi-pagi kok sudah rapi”

“Oh, saLive Baccarat Registrationya mau ke kampus, Pak No. Mau ujian skripsi. Hehe”

“Waah… Hebat ini. Semoga sukses mas, ya.”

“Iya, Pak. Mohon doanya nggeh, Pak No”

“Walah. Siap. Pasti saya doakan kok. Ini ada roti buat sarapan”

“Wah… Terima kasih, Pak No”

Saat kamu masuk ke minimarket, kamu akan lebih mudah tergoda untuk membeli barang-barang lain yang sebenarnya nggak kamu butuhkan. Yah, secara barang-barang yang ada di minimarket kan memang banyak dan beragam. Tatanan barangnya pun juga sudah ditata sedemikian rupa agar kamu tertarik untuk belanja banyak barang. Belum lagi dengan usaha promo-promo yang diberika oleh minimarket. Siapa sih yang gak tertarik membeli barang diskonan? Padahal toh belum tentu barang tersebut kita butuhkan.

Mungkin sekilas kamu tak begitu memperhatikan. Tapi kalau diamati lebih jeli, sebenarnya ada beda harga yang lumayan loh kalau kamu belanja di minimarket dan warung sebelah rumah. Coba aja kamu buktikan, dengan membawa uang 100 ribu, silahkan kamu membandingkan belanja di minimarket dan warung sebelah rumah.

Banyak juga loh kasus dimana penjual di warung tersebut sampai bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Dengan ikut membeli di warung mereka, kamu turut andil dalam perbaikan ekonomi keluarga mereka. Kalau anaknya bisa sarjana, dapat kerjaan dan akhirnya bisa membahagiakan orangtua, kamu patut bangga!

Enaknya belanja di warung tetangga itu biasanya si penjual memberi harga yang murah. Karena memang prinsip dari warung kecil di sebelah rumah adalah hanya ingin agar modalnya kembali. Urusan keuntungan, mereka tidak terlalu mengambil banyak keuntungan. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga si penjual ini bisa memberimu barang secara cuma-cuma. Kenapa? Entahlah, mungkin karena mereka sedang bahagia atau bisa jadi karena memang mereka sudah mengenalmu dengan baik.

“Ji, beli jajan sono di minimarket”

“Duitnya, buk?”

“Nih 100rb.”

“Waduh, kok banyak, buk?”

“Dikit ini, le. Jangan samakan 100 rb di minimarket sama warung sebelah rumah, ya”

Ya tak bisa disalahkan juga sih memang. Toh di minimarket-minimarket tersebut sudah menyediakan berbagai hal yang kita butuhkan. Mulai dari beras, telur, parfum, jajanan hingga kebutuhan buku dan pensil. Daripada beli secara terpisah di warung tetangga, langsung ke minimarket malah lebih efisien.

“Mas Oji kok tumben beli rokok? Sudah mulai merokok, mas?”

“Bukan buat saya, pak No. Ini titipannya bapak. Hehe”

“Hoalaaah… Bagus deh, mas. Jangan ikut-ikutan bapak rokokan lho, ya”

“Iya, pak. Dari Ibuk juga gak ngebolehin rokokan, kok”

Harga barang warung sebelah rumah cenderung lebih murah kalau kamu belanja banyak karena memang tidak ada biaya pajak yang besar. Kalau di minimarket, pajak dari usaha ritelnya kan banyak, jadi harga barang juga punya selisih yang lumayan. Uang 100 ribu yang kamu bawa juga pasti bisa dapet barang lebih banyak kalau kamu belanjanya di warung sebelah.

“Mbah Su, beli sabun sama pasta giginya, nggeh”

“Iya mas Oji. Sudah ini aja?”

“Iya, mbak. Jadi total berapa semuanya?”

“8 ribu aja, mas”

“Lah? Kok murah? Biasanya kan 10rb”

“Kan harga tetangga, mas”

Mungkinkah kamu dapat barang secara cuma-cuma kalau belanja di minimarket? Jelas tidak. Nah, masih yakin mau meninggalkan warung tradisional sebelah rumah?

Sebenarnya, belanja di warung akan membuatmu lebih mudah berhemat. Dengan belanja di warung sebelah, kamu jadi lebih fokus dengan barang belanjaanmu. Kalau kamu mau beli beras dan sabun, kamu hanya akan beli beras dan sabun. Hal itu akan sangat berbeda jauh dengan kalau kamu belanja di minimarket.

“Waah… Pak No sama bu No mau kemana nih?”

“Mau ke Malang, mas. Nia besok wisuda. Hehe”

“Alhamdulillaah… Salam ya pak buat dek, Nia”

Berbeda dengan belanja di minimarket, belanja di warung sebelah rumah itu bukan semata-mata hanya kegiatan menjual dan membeli saja. Karena memang letaknya yang dekat dengan rumah, baik kamu maupun penjual sudah paham benar tentang satu sama lain. Dari situ banyak interaksi yang terjadi. Mulai dari obrolan kecil sampai gosipin tetangga (biasanya sih ini pelakunya ibu-ibu). Hehe.

Meski begitu, kamu setidaknya jangan sampai melupakan kebaikan-kebaikan warung sebelah rumah yang sedari dulu jadi langgananmu. Dari warung-warung tersebut, berbagai kebutuhanmu dulu sudah terpenuhi. Atas dasar itu, kenapa kita tak kembali lagi belanja ke warung tetangga? Bukankah rezeki mereka juga berarti rezeki kita.

Disadari atau tidak, para penjual di warung sebelah rumahmu sangat menggantungkan perekonomian keluarganya dari hasil berjualan di warungnya. Kalau warungnya sepi, ya otomatis pendapatan mereka akan berkurang jauh. Dengan turut membeli barang-barang di warung tetangga, kamu juga sebenarnya ikut membantu perekonomian tetanggamu.

Sebenarnya, meski kamu memilih untuk belanja di minimarket juga tidak masalah sih. Itu kan memang pilihanmu. Tapi tolong jangan lupakan dan jangan tinggalkan juga warung-warung kecil di sebelah rumah. Mereka adalah pekerja kecil yang hidupnya digantungkan dari hasil keuntungan warungnya. Kalau memang ingin melihat lingkunganmu perekonomiannya membaik, yuk mulai sekarang kita budayakan kembali belanja di warung tetangga.