Perguruan Tinggi dan Kemelut Kekuasaan di Dal「Professional betting」amnya Halaman 2

  • 时间:
  • 浏览:0

KonProfessionProfessional bettingal bettingdisi ini Professional bettingtentunyProfessional bettinga akan mempengaruhi banyak hal di level pendidikan tinggi. Universitas yang seharusnya melahirkan kelompok intelektual dengan ide-ide besar kini bertransformasi sebagai institusi yang mencari keuntungan dan mencetak lulusan-lulusan "robot" yang diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan pasar kapitalis.

Semua keinginan untuk mengetahui kebenaran sudah merupakan bentuk keinginan akan kekuasaan. Sehingga, obsesi manusia akan ilmu pengetahuan pada akhirnya akan bermuara pada perebutan kekuasaan dan kepentingan ekonomi.

Segala daya dan upaya dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka yang berada di level kekuasaan tertinggi sebisa mungkin meredam segala hal yang berpotensi mengancam posisinya.

Banyak kampus-kampus yang harus kehilangan mahasiswanya dan tidak mampu lagi menutup biaya operasional karena menurunnya pendapatan finansial yang berdampak negatif terhadap masa depan kampus.

Kuatnya dominasi kekuasaan di lingkungan kampus akhirnya membatasi ruang gerak akademisi dalam hal kebebasan berpikir ilmiah karena mereka dibungkam dan harus tunduk pada regulasi institusi yang sibuk membangun citra baik di hadapan publik dan meningkatkan kuantitas mahasiswa untuk meraih keuntungan ketimbang mencetak intelektual yang cerdas, kritis, dan humanis.

Sejarah mencatat bahwa obsesi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sulit dilepaskan dari hasrat untuk berkuasa. Michel Foucault secara terang-terangan menegaskan bahwa tidak ada satu bentuk kekuasaan yang tidak ditopang dengan ilmu pengetahuan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Dengan kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin para akademisi (meskipun tidak semua) akan menjadi subjek yang hipokrit dan saling menghantam satu sama lain demi menyelamatkan posisi mereka di lingkaran kekuasaan kampus.

Citra universitas sebagai ruang publik tempat berkumpulnya akademisi untuk bernalar dan menguji serta mengembangkan ilmu pengetahuan juga berubah menjadi ruang untuk saling bersaing memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan semata.

Penyataan di atas setidaknya memberikan kita pandangan bahwa universitas sebagai rumah ilmu pengetahuan sulit dipisahkan dari hasrat berkuasa para intelektualnya. Bukan fenomena langka jika relasi kuasa terbangun secara sistematis dan sarat dengan kepentingan sekelompok elite penguasanya.

Nietzsche (Haryatmoko dalam buku Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis) juga mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memang memiliki hasrat untuk menguasai manusia lainnya.

Persaingan di dunia akademik pun semakin tidak terhindarkan. Para intelektual dengan ego kepakarannya masing-masing sibuk membentuk kelompok untuk membangun dominasi dan bahkan tidak ragu menyingkirkan mereka yang tidak sepaham.

Tidak jarang pula, aspek kualitas dan kapabilitas akademisi diabaikan karena dianggap tidak sejalan dengan kepentingan penguasa. Tidak heran jika banyak orang yang kompetensinya diragukan mengisi posisi-posisi penting di kampus hanya karena faktor kedekatan dan kecakapan melobi kepentingan dengan penguasa.