Bookmaker Ranking_Baccarat Trial_188BET

  • 时间:
  • 浏览:0

TCrystal BaccarateCrystal BaccaratmaCrystal Baccaratn: “Mau masuCrystal Baccaratk jurusan apa nanti?”

Kamu: *nari macarena dalam hati*

Sebelum akhirnya menentukan jurusan apa yang akan diambil di universitas, sebagian besar dari kita akan dihadapkan pada pilihan yang begitu dilematis. Mulai dari apakah jurusan tersebut cukup menjanjikan jika dilihat dari segi ketersediaan lapangan pekerjaan, sanggupkah kita menjalani tugas-tugas berat yang nantinya akan diberikan, atau apakah jurusan yang diincar adalah jurusan yang cukup prestige di mata orang lain.

Padahal Jurusan Komunikasi pun tak bisa dijalani secara hore-hore seperti bayanganmu. Bikin film, bergelut dengan kelas fotografi, atau syuting iklan semakin membuat jurusan ini terlihat begitu fun dan ringan. Tapi namanya juga kuliah, semua tentu perlu dijalani dengan sistematis dan dalam koridor kognitif yang benar.

Yakin masih mau jadi dokter? via ask.fm

Kamu: “Sastra Arab.”

Atau bisa juga gini

Karena berpikir bahwa setiap perusahaan pasti membutuhkan jasa seorang akuntan, kamu pun memutuskan masuk ke Jurusan Akuntansi di sebuah universitas ternama. Setelah kuliah kurang lebih selama 4 tahun, angan-angan untuk segera mendapat pekerjaan karena merasa jurusanmu cukup dibutuhkan seolah menggantung di depan mata.

Kamu: Enggak ah, nanti dikira kayak perempuan lagi

Aturan yang sama berlaku bagi jurusan di Fakultas Humaniora lainnya. Beban tugasnya pun sama beratnya, begadangnya pun tak kalah beda dengan jurusan Teknik yang selama ini terkenal susahnya.

Kalau kamu memang ingin masuk Jurusan Kedokteran pastikan kamu memang ingin mengabdi dan tak keberatan mendedikasikan hidup untuk belajar saban hari. Ini bukan tentang gengsi atau gaji tinggi (hey, dokter internship pun mendapat gaji yang tak seberapa loh!) melainkan tentang bagaimana kamu mau mendedikasikan hidupmu untuk sesuatu yang lebih berarti.

Kamu: Pengen perhotelan nih, tapi bagian tata boganya…

Ketika kamu masuk ke jurusan yang memang kamu inginkan, kamu akan memiliki energi penuh untuk menjalani proses tersebut dengan keseriusan. Keseriusan inilah yang sebenarnya akan mengantarkanmu pada keberhasilan yang kamu idam-idamkan. Semoga kamu sukses, ya!

“Kuliah Komunikasi itu nggak gampang tau. Teori yang harus dipelajari banyak, tiap teori juga punya cabang asumsi yang nggak kalah banyak. Bikin film itu juga capek. Harus bikin ide, bikin story board, proses syutingnya pun panjang. Setelah kuliah komunikasi aku jadi sadar kalau berkomunikasi itu nggak segampang yang aku kira.”

Menentukan jurusan di dunia perkuliahan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai pertimbangan dan alasan menjadi landasan berpikir sebelum menentukan pilihan. Hal tersebut wajar, mengingat jurusan kita ambil nantinya sedikit banyak pasti akan berpengaruh pada karir dan masa depan kita.

Jika memang ingin mengambil jurusan tertentu yang sulit dimasuki di universitas negeri karena persaingannya yang sangat ketat, tak perlu ragu mengambilnya di Universitas Swasta. Yakinlah passion-mu jauh lebih berharga dari sebuah ijazah berembel-embel “Negeri.”

Perjuangan selesai? Tunggu dulu! Masih ada UKDI, internship, masa jadi residen, sampai ambil sub-spesialis. Yah, kira-kira beginilah gambarannya:

Jika sudah begini sesungguhnya tak ada yang menjamin masa depan gaji seseorang. Oke lah jurusan kuliah bisa menentukan, tapi di akhir nanti semua akan bergantung pada keuletanmu sebagai pribadi.

Kamu adalah pria yang punya selera oke soal dunia masak memasak. Bahkan tak jarang jika akhir minggu tiba, kamu senang sekali bergelut di dapur dan menghasilkan masakan-masakan istimewa. Tapi ketika ingin masuk Jurusan Tata Boga, ada pemikiran bahwa memasak itu identik dengan perempuan. Sebenarnya pemikiran tersebut bisa saja datang dari kamu ataupun orang lain. Mungkin percakapannya bisa jadi seperti ini:

Alhasil kamu yang di SMA mengambil jurusan IPA pun memilih banting setir ke jurusan Humaniora. Jurusan Komunikasi, HI, Hukum, dan Sosiologi jadi pilihan utamamu dalam memilih jurusan. Pikirmu jurusan-jurusan tersebut proses kuliahnya menyenangkan, tak perlu banyak membutuhkan analisis sehingga bisa dijalani dengan santai.

“Cari kuliah yang nggak banyak praktikum ah, yang bisa pulang cepat, gak banyak tugas, dan nilainya gampang!”

Sementara itu di sisi lain teman-temanmu sudah memiliki pilihannya sendiri dan bahkan sudah sibuk daftar sana-sini. Kondisi tersebut membuat kamu kebakaran jenggot dan dengan terburu-buru ikutan mendaftar. Parahnya kamu mendaftarkan diri di jurusan yang bukan saja tidak kamu minati tapi juga tidak kamu ketahui seluk-beluknya seperti apa. Aksi “mencontek” jurusan teman pun dilakukan dengan pertimbangan yang minim. Setelah berkuliah barulah kamu tahu bahwa jurusan tersebut tidak kamu sukai.

Perusahaan mana sih yang hari gini gak butuh jasa akuntan?

Tak sedikit darimu yang mungkin memilih jurusan berdasar alasan kemudahan. Melihat kakak-kakak angkatan yang tenggelam dalam tumpukan tugas membuatmu bercita-cita,

Teman: “Heee? Mana bisaaa? Ngimpi lu! Kalau mau jadi diplomat ya masuk HI tau, kok Sastra?”

Kamu: …………………..

Saat memilih jurusan apa yang hendak kamu ambil, sebaiknya tutup telinga dari omongan orang di luaran. Dasarkan pilihan tersebut pada minat dan bakatmu.

Ibu: “Ya nanti pilihan pertama Kedokteran, pilihan kedua yang passing grade nya rendah aja. Biar tetap UI..”

Teman: Hahaha, mau jadi ibu rumah tangga?

Komunikasi: Image Jurusan yang fun dan ringan hanya berlaku di awal via unmer.ac.id

Begitu pun jurusan Kriminologi. Dengan gelar Kriminologimu kamu bisa mendaftar jadi wartawan khusus kolom kriminal yang bisa punya karir profesional. Jika wartawan lain hanya bisa melaporkan sebuah kejadian lewat gambaran visual saja kamu bisa menuliskan beritamu dengan pendekatan yang lebih ilmiah, dengan mengamati pola percikan darah. Jika ini ditekuni dan didukung dengan kemampuan jurnalistik yang mumpuni pekerjaan sebagai wartawan kriminal dan perang internasional amat mungkin kamu jalani.

Kamu yang adalah anak pengacara sukses pun digadang-gadang untuk meneruskan biro konsultan hukum keluarga yang sudah terun temurun. Padahal jika boleh jujur menganalisa berkas acara hukum, berdebat dengan hakim, bahkan sampai mengirim orang ke penjara tak pernah ada dalam bayanganmu.

Kamu: “Diplomat.”

Kamu: Eh gue jadinya ngambil jurusan manajemen nih

Jurusan Pendidikan Dokter menjadi salah satu jurusan yang peminatnya tak pernah sepi. Setiap tahun ajaran baru ribuan bahkan ratusan ribu orang berlomba mencoba keberuntungan agar bisa diterima di jurusan yang termasuk salah satu paling bergengsi di negeri ini. Tapi apakah benar kuliah di Jurusan Pendidikan Dokter memang bergengsi dan menawarkan gaji tinggi?

Dalam pemikiranmu:

Ibu: “Besok kalau kuliah di UI aja ya Nak. Kalau kuliah di UI nanti lebih gampang diterima masuk kerja.”

Jurusan-jurusan yang (dianggap) tidak begitu bergengsi biasanya sepi peminat karena calon pelamarnya takut tidak punya masa depan setelah lulus nanti. Padahal kenyataan di dunia kerja tak sehitam-putih bayanganmu saat ini lho. Kamu yang lulusan sastra BISA BANGET masuk ke Kementerian Luar Negeri untuk berkarir sebagai diplomat. Kemampuan berbahasa dan pengetahuanmu atas kebudayaan negara tersebut akan jadi bekal yang sangat berarti.

Teman: Gak jadi masuk tata boga? Bukannya lo suka masak ya?

Kusumandaru (@aan_), Residen Anastesi

Ya habis mau gimana lagi, papaku nyuruhnya gitu. Katanya sudah jadi tradisi keluarga

Padahal jurusan apapun yang diambil tidak akan mempengaruhi sisi maskulinitas atau feminitasmu. Begitu juga dengan perempuan yang tertarik dengan jurusan perminyakan. Tak perlu takut dikira gahar karena jurusan favoritmu biasanya akan didominasi oleh kaum lelaki. Memilih jurusan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan serta minatmu dan bukan berdasar streotype yang berlaku.

(kalau gini ya gak usah kuliah kali Brooo)

Teman: “Mau jadi apa lo? Ustadz?”

Angan-angan untuk menjadi komikus terkenal sebenarnya sudah masuk ke dalam daftar rencana hidup jangka panjangmu. Berbagai piagam penghargaan lomba menggambar pun berjejer rapih di dalam lemari pajang di kamar. Namun ketika mengisi formulir jurusan universitas, kamu mengisi jurusan hukum dan bukan seni rupa atau desain komunikasi visual. Lah kok gitu:

Akan tetapi setelah lulus kamu akhirnya tahu bahwa lulusan jurusan akuntansi jumlahnya sangat banyak. Mirisnya, kemampuan perusahaan untuk menyerap lulusan jurusan akuntansi tak sebanyak itu. Realita sulitnya mencari pekerjaan baru dibuktikan setelah ijasah telah berada di dekapanmu. Meskipun jurusanmu termasuk jurusan yang cukup populer kamu tetap harus kerja keras untuk mendapat pekerjaan.

Teman: Lo jadinya mau masuk jurusan apa bro?

Namun menurut Hipwee, ada beberapa alasan yang sebaiknya tidak kamu gunakan untuk menentukan jurusan yang akan kamu ambil nantinya. Mau tahu apa saja alasannya? Ini dia daftarnya!

Mungkin semasa SMA dulu kamu belum memiliki ketertarikan yang spesifik terhadap suatu hal. Apakah itu sesuatu yang berhubungan dengan seni, hukum, atau ekonomi. Tidak ada satu bidang pun yang berhasil menarik perhatianmu. Situasi ini membuat kamu merasa bingung ingin mengambil jurusan apa untuk di pelajari di bangku kuliah nanti.

Entah bagaimana anggapan bahwa almamater kuliah akan menentukan kelancaran karir ini bisa berkembang. Padahal sekarang kenyataannya banyak kok Universitas Swasta yang tak kalah berkualitasnya dengan universitas negeri. Semua kembali lagi pada kamu yang menjalani — sekuat apa kamu mau berusaha untuk mengejar mimpi.

Ada banyak orang yang sejak masih duduk di bangku SMA sebenarnya sudah menyadari bahwa dirinya tak memiliki ketertarikan akan dunia pendidikan. Membuat usaha dan mengembangkan usaha tersebut adalah mimpi yang tak pernah absen dalam pikiranmu. Namun karena rata-rata temanmu di SMA melanjutkan ke universitas, akhirnya kamu pun ikutan mendaftarkan diri.

Tya, Prili, dan Ernia — Mahasiswa Komunikasi UGM&UNPAD

Kamu punya ekspetasi besar terhadap gaji di dunia pekerjaan nantinya. Maka dari itu ketika memilih jurusan apa yang akan diambil, pilihan pun jatuh pada jurusan-jurusan yang menjanjikan gaji besar untuk para lulusannya. Maka wajar saja jika Jurusan Teknik adalah jurusan yang dianggap sebagai “lahan basah” bagi banyak lulusan SMA yang cita-cita hidupnya ingin kaya.

Jangan pernah percaya bahwa jurusan kuliahmu tak punya masa depan. Jika kamu excellent di bidang itu kesempatan kerjalah yang akan dengan senang hati mendatangimu.

Kamu: “Tapi Kakak pengen kuliah Kedokteran, Bu. Susah banget masuk Kedokteran UI…”

“Meniti karir sebagai dokter dari tahap bawah sampai tahap atas itu membutuhkan waktu kira-kira…….Ummm saya aja nyerah ngitungnya.”

Kalau memang nggak mau kuliah ya be fair, jangan ongkang-ongkang saja di rumah dan malah menyusahkan orangtua. Cari kerja dan wujudkan semua rencana yang kamu yakini bisa tercapai tanpa harus melalui pendidikan formal. Tapi ini bukan berarti Hipwee mengajari untuk tidak kuliah, ya. Nukilan ucapan Menteri Susi layak dikutip di sini sebagai bahan renungan,

Ada 2 kenyataan yang harus kamu pertimbangkan jika memutuskan masuk ke jurusan Teknik:

Setelah mulai kuliah kamu pun semakin menyadari bahwa dunia tersebut benar-benar tak menarik untuk digeluti. Kondisi ini membuat kamu merasa stres selama proses perkuliahan. Jika ini yang terjadi kamu sebenarnya hanya menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih berarti.

Hehe, tunggu dulu…perjalanan menjadi dokter tidaklah semudah yang kamu kira. Pertama kamu perlu menyelesaikan kuliah selama kurang lebih 4 tahun untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. Setelah itu kamu perlu masuk ke dunia Ko-ass yang menantang. Lulus Ko-ass barulah kamu bisa mengikuti sumpah dokter dan mendapatkan gelar dr. di depan namamu.

“Kalau tidak punya pendidikan macam saya (yang cuma lulusan SMP) kamu harus kerja 3 kali lebih keras untuk bisa sampai ke posisi saya sekarang. Pendidikan itu tetap perlu.”